Selasa, 20 Desember 2011

WISATA DI KABUPATEN BELU

WISATA DI KABUPATEN BELU
Mungkin ada yang bertanya-tanya Motaain itu dimana?? Lokasi perbatasan Motaain berada di Kabupaten Belu NTT, Motaain merupakan perbatasan antara Indonesia dengan Timor Leste. Kok dolar?? Timor Leste menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang, maka itu dolar bukan hal baru di Motaain. Perbatasan Motaai merupakan perbatasan utama antara Indonesia dengan Timor Leste oleh karena itu perlu adanya perhatian khusus di lokasi perbatasan Motaain oleh pemerintah KabupatenBelu.

Trus gimana dengan dolar?? Jika Anda sampai di lokasi perbatasan Motaain yang pertama-tama yang Anda jumpai adalah sejumlah orang yang menawarkan penukaran Rupiah dengan Dolar alias money changer, banyak lho pengangguran di Motaain yang sekarang bekerja sebagai penukar uang. Semakin gampang kan untuk dapat dolar?? Banyak pengunjung dari Timor Leste ke Indonesia dan sebaliknya melalui perbatasan Motaain Belu setiap hari, bisa ratusan orang lho. Bayangkan, pasti buat pusing petugas Imigrasi
Motaain ya.

            Yah selain nikmati dolar di Motaain Anda juga bisa menikmati suasana yang indah, soalnya dibangun seindah mungkin biar menarik pengunjung dari Timor Leste yang berkunjung ke Indonesia melalui perbatasan Motaain. Biasanya trevel dari Timor Leste mengantar penumpang alias pengunjung cuma sampai di Motaain lalu ganti trevel untuk meneruskan perjalanan dari Motaain ke Atambua ibu kota Kabupaten Belu. Motaain juga bedekatan dengan tempat wisata Kabupaten Belu seperti Pasir Putih, Sukaer Laran dan Kolam Susu.jadi jika anda sampai di Motaain tinggal beberapa kilo meter lagi anda sudah bisa menikmati tempat wisata tersebut.

http://www.belukab.go.id/images/stories/patung.jpgPariwisata adalah sektor yang cukup penting untuk menarik tourist, baik dalam negeri maupun luar negeri. Walaupun pada umumnya Kabupaten Belu daerahnya kering dan berbatu karang, namun dari sisi keindahan alamnya ternyata tidak kalah dengan daerah-daerah lain yang subur. Di sinilah sisi lain dari keunikan Belu, terutama tempat wisatanya yang sebagian besar masih "perawan" dan belum terjamah oleh para investor.
Transportasi untuk sampai di tempat lokasi relatif mudah didapat, mengingat kendaraan umum yang ada di Belu ini cukup banyak, dan dapat disewa untuk kepentingan rekreasi. Tempat menginap yang ada di sini pun cukup banyak, terutama di pusat kota Atambua.
Kolam Susuk
       Perjalanan wisata di Atambua Kabupaten Belu bisa dimulai dari obyek yang menarik dan paling dekat yaitu areal tambak ikan bandeng atau lebih dikenal dengan Kolam Susuk yang ditempuh hanya dengan waktu 45 menit.
"Bukan lautan hanya kolam susuk, kail dan jala cukup tuk menghidupimu, tiada badai topan kau temui, ikan dan udang datang menghampirimu."
http://www.belukab.go.id/images/stories/susuk2.gif        Ini menggambarkan keindahan Kolam Susuk, wilayah pariwisata dan potensi kekayaan alam bahari yang ada di Kolam Susuk, Desa Kenebibi, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu.
         Kolam Susuk memiliki banyak potensi hamparan pesisir yang dibaluti pohon-pohon bakau, Kolam Susuk terkesan sunyi sembari semilir angin sepoi-sepoi menghembus.
         Kondisi ini menggambarkan bahwa Kolam Susuk adalah daerah pariwisata. Terlihat banyak kolam-kolam yang dieksploitasi guna membangun tambak ikan dan udang, potensi itulah bagian dari wilayah Kolam Susuk. Di sana terdapat Lopo-lopo (tempat bersitirahat sambil melihat kolam susuk).
         Lopo-Lopo tersebut berdiri tepat di atas kolam-kolam ikan. Sehingga sangatlah indah kita berwisata ke Kolam Susuk, sambil bertamasyah sambil berolahraga pancing.Tidak hanya potensi Kolam Susuk.
         Pemandangan alam Kolam Susuk sangat asri, serta jauh dari deburan ombak pantai serta hingar bingar keramaian kota, Kolam Susuk bisa dijadikan tempat peristirahatan yang nyaman bagi wisata keluarga.Kolam Susuk menyimpan berjuta pesona alam, mengapa tidak, dulunya merupakan bentangan hutan bakau, namun sekarang sudah dikemas menjadi kolam-kolam ikan air tawar tempat wisata bagi para pengunjung untuk melepas lelah.
http://www.belukab.go.id/images/stories/kawahmas.gifPembuatan Garam
Pembuatan Garam Puas bermain air laut, Anda dapat mengunjungi tempat pembuatan garam tradisional. Yang menarik dari sini adalah tekhnik pembuatan garam yang tidak biasa seperti yang dilakukan masyarakat di pantai utara Jawa.
Garam yang dihasilkan merupakan hasil perebusan air laut dengan menggunakan bahan baker kayu bakau yang banyak terdapat didaerah tersebut. Sayangnya obyek ini mempengaruhi hutan bakau yang ada di pantai

TebeWisata Budaya Tarian Tebe

Merupakan tarian yang menggambarkan luapan kegembiraan atas suatu keberhasilan ataupun kemenangan dalam suatu pekerjaan. Terian ini terdiri dari beberapa orang penari laki-laki dan perempuan yang saling bergandengan membentuk lingkaran sambil menari dan bernyanyi bersahut-sahutan melantunkan syair-syair dan pantun sambil menghentakkan kaki sesuai irama lagu sebagai wujud luapan kegembiraan.
Tarian yang melibatkan orang ini dulu biasanya dilakukan pada malam hari sebagai ungkapan rasa syukur atas terlaksananya suatu pekerjaan, misalnya panen, perkawinan, dan lain-lain. Namun dalam perkembangannya tarian ini akhirnya dapat dilakukan kapan saja, terutama siang hari, bilamana ada acara-acara hiburan atau menyambut para tamu.

LikuraiWisata Budaya Tarian Likurai

Salah satu dari sekian kebudayaan daratan Belu adalah Tarian Likurai, yang pernah memukau warga ibukota Jakarta di tahun 60-an. Tarian Likurai dahulunya merupakan tarian perang, yaitu tarian yang didendangkan ketika menyambut atau menyongsong para pahlawan yang pulang dalam perang. Konon, ketika para pahlawan yang pulang perang dengan membawa kepala musuh yang telah dipenggal (sebagai bukti keperkasaan) para feto (wanita) cantik atau gadis cantik terutama mereka yang berdarah bangsawan menjemput para pahlawan dengan membawakan tarian Likurai. Likurai itu sendiri dalam bahasa Tetun (suku yang ada di Belu) mempunyai arti mungasai bumi. Liku artinya menguasai, Rai artinya tanah atau bumi. Lambang tarian ini adalah wujud penghormatan kepada para pahlawan yang telah menguasai atau menaklukkan bumi, tanah air tercinta.
Tarian adat ini ditarikan oleh feto-feto dengan mempergunakan gendang-gendang kecil yang berbentuk lonjong dan terbuka salah satu sisinya dan dijepit di bawah ketiak sambil dipukul dengan irama gembira serta sambil menari dengan berlenggak-lenggok dan diikuti derap kaki yang cepat sebagai ekspresi kegembiraan dan kebanggaan menyambut kedatangan kembali para pahlawan dari medan perang. Mereka mengacung-acungkan pedang atau parang yang berhias perak. Sementara itu beberapa mane (laki-laki) menyanyikan pantun bersyair keberanian, memuja pahlawan.
Konon kepala musuh yang dipenggal itu dihina oleh para penari dengan menjatuhkan ke tanah. Proses ini merupakan penghinaan resmi kepada musuh. Selain itu para pahlawan tadi diarak ke altar persembahan yang sering disebut Ksadan. Para tua adat telah menunggu di sini dan menjemput para pahlawan sambil mencatat kepala musuh yang dipenggal itu serta menuturkan secara panjang lebar tentang jumlah musuh yang telah ditaklukkan sampai terpenggal kepalanya diperdengarkan kepada khalayak ramai untuk membuktikan keperkasaan suku Tetun.
Pada masa kini, tarian tersebut hanya dipentaskan saat menerima tamu-tamu agung atau pada upacara besar atau acara-acara tertentu. Sebelum tarian ini dipentaskan, maka terlebih dahulu diadakan suatu upacara adat untuk menurunkan Likurai atau tambur-tambur itu dari tempat penyimpanannya.